PANGGILAN SURGA
Ini adalah suatu kisah romantis
sebuah keluarga antara suami dan istri yang menjadikan Allah sebagai tujuan
mereka. Keluarga yang tumbuh dalam ketaatan kepada Rabb-Nya.
Ahmad adalah professional muda
yang sibuk. Jadwalnya sangat padat. Meskipun begitu, ia tidak pernah melupakan
ibadah kepada Rabb-Nya. Ia rajin shalat lima waktu, walaupun agak jarang
berjamaah ke masjid. Dengan alasan kecapekan dan kesibukan, sering ia pulang
sampai rumah, merebahkan tubuhnya, lalu tidur. Ia melaksanakan shalat sendirian
di rumah, meskipun tak jauh dari rumahnya ada masjid. Suara azan pun menggema
keras sampai ke rumahnya.
Shofi, istrinya, sebenarnya sudah
tidak kurang-kurang untuk mengingatkan, agar sesibuk apapun, suaminya tidak
melupakan shalat berjamaah, dan sampai sejauh ini belum berhasil. Tapi ia tidak
berputus asa. Di samping doa yang selalu ia panjatkan, ia selalu memikirkan
cara untuk memotivasi suaminya agar shalat berjamaah ke masjid.
Suatu hari, Shofi mendapat tugas
dari sekolah tempatnya mengajar untuk seminar di luar kota selama beberapa
hari. Ia berpamitan memohon izin kepada suaminya, dan Ahmad tidak keberatan. Pagi
itu, bersama rombongan dari sekolahnya, Shofi berangkat ke luar kota.
Beberapa jam berlalu, hujan turun
dengan derasnya. Tak ayal, itu membuat Ahmad khawatir. Apakah istrinya lancer di
perjalanan? Apalagi di televisi, ia menyaksikan berita kecelakaan lalu lintas
yang disebabkan oleh jalan yang licin. Ia menelepon istrinya. Masuk, tapi tak
diangkat. Ia mengirim sms. Masuk, tapi tak dibalas. Ia kirim pesan melalui whatsapp. Masuk, tapi tak dibaca. Ia telepon
lagi, sms lagi, whatsapp lagi, tapi taka
da jawaban.
Ahmad mulai khawatir. Sementara teman-teman
serombongan istrinya, ia taka da yang mengenalnya, orangnya maupun nomornya. Ahmad
tak bisa bekerja dengan tenang di kantornya. Gelisah, apa yang harus
dilakukannya?
Menjelang petang ia pulang
kerumah. Tiba-tiba saja ia menangis, melihat kondisi anaknya sendiri
menunggunya. Tiba-tiba saja ia menjadi melankolis, membayangkan anaknya tak ada
ibu. Baru saja ia hendak menelepon lagi istrinya, ternyata ada pesan sms masuk.
Istriku!
“Assalamu’alaikum, bang, sudah
shalat?”
Demikian bunyi sms itu. Segera Ahmad
menelepon istrinya.
“sudah sampaikah, Dik?”
“sudah Bang, empat jam yang lalu”
“Kamu tadi tahu, Abang menelepon?”
“Iya, Bang”
“Smsku masuk?”
“Masuk, Bang”
“Whatsapp?” Ahmad mulai geram.
“Masuk Bang”
“Lalu mengapa kau diam saja tidak
menjawab? Membiarkan Abang gelisah?”
Shofi mendengar nada khawatir
disana. Tapi sebenarnya ia tahu, itu disebabkan karena suaminya sangat
mencintainya. Shofi menarik nafas, melafalkan basmalah dalam hati, berharap
semoga Allah menyertai jawabannya.
“Abangku sayang, bukan maksud
hatiku durhaka kepada Abang. Aku pun tahu betapa besar cinta Abang kepadaku. Tapi
Bang, kalau panggilan tak berbalas saja sudah membuat Abang begitu khawatir,
bagaimana murka Allah melihat panggilan-Nya tak pernah Abang balas?”
Hening. Terdengar nada
sesenggukan di seberang. Kali ini Ahmad menangis.
“kau benar, sayang” bisik Ahmad.
Shofi melanjutkan.
“Abangku sayang. Aku ingin kita
tidak hanya bersama di dunia, tapi terus berlanjut sampai di surga Allah. Itu kita
mulai dengan memenuhi panggilan Allah selama masih di dunia ini.”
“maafkan aku sayang, aku berjanji…”
Ahmad menyela.
“Berjanjilah kepada Allah, Bang…”
Shofi sudah menyelesaikan
tugasnya. Beberapa hari berpisah dari suami tercinta, ia digayut rindu teramat
sangat. Ia pulang kembali kerumah. Terharu, didapatinya suaminya sedang pulang
dari masjid.
HIKMAH
Dalam rumah tangga, suami dan
istri harus bekerja sama untuk membangun ketaatan kepada Allah. Sebab, salah
satu jaminan kebahagiaan keluarga adalah saat menjadikan ketaatan kepada Allah
sebagai dasar dan nafas dalam rumah tangganya. Laksana keluarga Nabi Ibrahim,
beliau berhasil mengondisikan anak dan istrinya untuk saling mendukung dalam
ketaatan. Ketika salah satu dari anggota keluarga mulai bergeser dalam kualitas
ketaatan kepada Allah, adalah kewajiban bagi yang lain untuk mengingatkannya. Dalam
mengingatkan ini harus sabra dan mencari cara yang paling tepat dalam
menyampaikannya. Diiringi doa kepada Allah, maka inshaAllah akan selalu ada
solusi bagi masalah yang muncul.
Mari kita memperlakukan Allah
seperti Bos kita. Ketika Bos memanggil kita langsung menemuinya. Tapi kalau
ketika azan berkumandang bagaimana? Sesungguhnya itu panggilan Allah melalui
perantara muazin. Kadang kita ingin rezeki bertambah, tapi ketika Allah
memanggil melalui azan kita cuek karena kesibukan dunia kita. Padahal kita tahu
rezeki itu dari Allah, tapi ketika Allah memanggil kita cuek. Kadang kita
pengen masalah cepat selesai, tapi ketika Allah memanggil tidak segera
dipenuhi. Masalah tersebut dari Allah tapi kita tidak meminta solusi kepada
memberi masalah.
Tulisan ini bukan bermaksud
menceramahi atau menggurui saudara, tapi sebagai muhasabah bagi kita terutama
saya pribadi untuk bagaimana memprioritaskan Allah dari kesibukan kita. Allah
memang menyuruh kita mencari karunia-Nya di dunia, tapi kita jangan lupa dengan
kewajiban kita. Seperti pesan ustadz Yusuf Mansur “mencari dunia dengan mencari
pemilik-Nya”. Mencari dunia dengan cara sesuai syariat yang diridhai-Nya.
Semoga bermanfaat.
Comments
Post a Comment